Narasumber: Maryadi Santana, CFP
Mencatat pengeluaran merupakan salah satu bagian penting dalam upaya mengelola keuangan keluarga. Akan tetapi, ternyata ada jenis-jenis pengeluaran yang sering dianggap tidak penting dan tidak dibutuhkan untuk dialokasikan padahal jenis pengeluaran ini sangat krusial bagi kestabilan keuangan keluarga.
Apa saja pos yang termasuk dalam kategori penting dan dibutuhkan?
Pos keamanan keuangan
Pada piramida keuangan, terdapat beberapa pos dalam keamanan keuangan yang biasanya terlupakan yaitu dana darurat dan dana mitigasi resiko.
Dana darurat
Sedikit cerita mengenai dana darurat yang saya alami sendiri pada tahun 2020. Waktu itu saya memutuskan pindah kerja karena tawaran gaji yang lumayan besar. Saya tidak berpikir bahwa pandemi akan lama dan mempengaruhi perusahaan tempat kerja baru saya tersebut. Namun baru 4 bulan bekerja, ternyata perusahaan baru tersebut membatalkan rencananya membuka cabang di Indonesia. Akhirnya saya hidup dari dana darurat. Dana darurat baru siap untuk 3 bulan sementara pada kenyataannya saya harus hidup tanpa pekerjaan lebih dari 3 bulan tapi dari kejadian itu saya sangat memilah apa yang akan dimasukkan ke pos anggaran. Hidup dengan sangat irit.
Kasus lain dialami teman saya ketika pada tahun 2019 menggunakan dana daruratnya sebagai modal ekspansi bisnis. Baru saja chip in membuka cabang baru, ternyata pandemi melanda.
Dana darurat ini adalah anggaran dana yang diharapkan dapat menjadi penyelamat jika ada hal urgent yang terjadi seperti kasus diatas, terjadi pemutusan hubungan kerja dan sulit mencari pekerjaan baru. Atau kejadian urgent yang terbilang simpel seperti memperbaiki genteng bocor, biaya bengkel untuk memperbaiki mobil yang mogok.
Pembuatan pos ini diperuntukkan agar jika ada kejadian darurat, pos pengeluaran lain tidak terganggu. Misalnya jika mobil mogok, ada dana darurat yang dapat diambil dari rekening sehingga pos belanja rutin tidak berkurang akibat terpaksa ‘membiayai’ ongkos bengkel.
Godaan dari dana darurat adalah ketika merasa uangnya terkumpul lumayan banyak, maka akan terasa sayang memiliki uang ‘nganggur’, padahal dana darurat sangat krusial saat dibutuhkan. Dana darurat ibarat pelampung dalam kapal yang hanya akan dipakai saat dibutuhkan, namun ketika tidak ada kebutuhannya (tidak ada kecelakaan kapal) maka akan menjadi sebuah kewajaran jika penumpang merasa tidak aman karena instrumen keselamatan kapal tidak lengkap.
Bagaimana cara menghitung dana darurat?
Hal pertama yang menjadi pertimbangan adalah posisi keluarga, pengeluaran keluarga baru akan berbeda dengan keluarga dengan dua anak, akan berbeda pula dengan keluarga dengan anak yang tinggal bersama orangtua dan menanggung pengeluaran orangtua.
Hitung pengeluaran keluarga (termasuk anggota keluarga yang menjadi tanggungan) perbulan kemudian kalikan dua belas. Jumlah tersebut adalah jumlah yang ideal untuk menjadi target dana darurat.
Setelah mengetahui angka ideal tersebut, rencanakan berapa yang akan disisihkan perbulan dan apa instrumen finansial yang dipakai. Instrumen finansial yang tersedia saat ini adalah tabungan, deposito, logam mulia, reksadana pasar uang atau reksadana saham.
Apa perbedaan dari instrumen-instrumen itu? Secara fungsi, perbedaannya ada di resiko dan fleksibilitasnya. Tentu saja yang paling fleksibel adalah rekening.
Menyimpan dana darurat juga sebaiknya tidak semua berada di satu instrumen, karena sifatnya yang darurat maka harus bisa diambil sewaktu dibutuhkan termasuk di hari libur.
Dua hal yang harus diterapkan pada penyimpanan dana darurat adalah, pertama memisahkan rekening untuk tabungan dengan rekening operasional. Kedua, besaran dana darurat di rekening kurang lebih 1-2 kali pengeluaran bulanan.
Dana darurat yang ditaruh di rekening tidak perlu banyak-banyak karena bunganya kecil, sehingga tidak akan bisa mengejar inflasi — rasanya sudah mengumpulkan tetapi tidak menutup target akhir dana darurat (12 kali pengeluaran bulanan) karena terkena inflasi.

Mitigasi Resiko
Mitigasi resiko merupakan tindakan terencana dan berkelanjutan yang dilakukan oleh ayah bunda sebagai pemilik risiko agar bisa mengurangi dampak dari suatu kejadian yang berpotensi atau telah merugikan atau membahayakan keluarga ayah bunda.
Apa saja mitigasi risiko dalam keuangan keluarga?
1 Asuransi kesehatan
Asuransi kesehatan menjadi hal pertama yang harus dilakukan mitigasi risiko karena biaya kesehatan adalah biaya yang paling mudah mengganggu arus kas/anggaran.
Jika ada anggota keluarga yang masuk RS atau biaya tanggungan BPJSnya tidak bisa menutupi atau limit medical reimbursement di kantor tidak mencukupi maka selisih yang harus dipenuhi itu biasanya berasal dari tabungan atau anggaran. Jika terjadi hal demikian berarti ada pos pengeluaran yang terpaksa harus dikurangi.
Untuk itu, meskipun ayah bunda mendapatkan asuransi dari kantor atau mendapat rembursemen kesehatan, sebaiknya ayah bunda tetap tetap membeli asuransi kesehatan untuk anggota keluarga jika ada budgetnya.
Mengapa demikian? Karena tidak selamanya ayah bunda bekerja di perusahaan saat ini, suatu hari ayah bunda tidak akan bekerja di sana bisa jadi karena karena resign atau pensiun sehingga tidak selamanya fasilitas itu kita dapat. Hanya ASN dan pegawai beberapa BUMN yang masih mendapat asuransi kesehatan setelah pensiun.
Alasan mengapa asuransi kesehatan harus dibeli dari sekarang adalah adanya perbedaan premi seiring bertambahnya usia, ada faktor resiko penyakit yang sudah diidap. Faktor-faktor tersebut adalah faktor yang menyebabkan tertolaknya pengajuan asuransi kesehatan.
Asuransi kesehatan tradisional sekarang sudah ada yang harganya berkisar 600-700 ribu/bulan. Tujuan utama membeli asuransi kesehatan mulai saat ini adalah agar data anggota keluarga ayah bunda tersimpan di perusahaan asuransi sehingga saat ayah bunda sudah pensiun, ayah bunda sebagai pengelola keluarga tidak akan kena charge premi yang lebih besar karena ada kondisi tambahan karena faktor usia dan faktor penyakit yang sudah ada atau premi yang memang sudah naik.
2. Asuransi penyakit kritis
Kemudian selain asuransi kesehatan, juga ada asuransi penyakit kritis. Perbedaan asuransi kesehatan dan asuransi kritis adalah asuransi kesehatan digunakan saat kita masuk rumah sakit (rawat inap atau rawat jalan) sementara asuransi penyakit kritis adalah santunan atas sakit kritis yang diidap.

3. Asuransi jiwa
Asuransi ini adalah mitigasi resiko yang diperuntukkan bagi orang yang kita tinggalkan jika kita meninggal.
Apa saja yang harus dihitung di asuransi jiwa?
Ayah bunda dapat memasukkan biaya-biaya yang sekiranya terjadi saat ayah bunda meninggal dunia, seperti cicilan utang, biaya pemakaman (mulai dari biaya ambulans, tanah makam sampai biaya ijin makam), biaya tahlilan 40 hari.
Jika ayah bunda ingin anak-anak terjamin kehidupan dan uang sekolahnya, maka biaya pendidikan dapat ditambahkan dalam komponen perhitungan asuransi jiwa.
Selain itu, jika ayah bunda sudah siap membicarakan warisan maka biaya notaris, biaya balik nama, dan jual beli juga dapat dimasukkan ke dalam komponen asuransi jiwa.
Sehingga jika ayah bunda ditawari asuransi jiwa yang nilai pertanggungannya kecil besar kemungkinan hal tersebut tidak mencukupi kebutuhan keluarga yang ditinggalkan.

Baca juga: Perencanaan Keuangan Keluarga Menghadapi Resesi
Pos kenyamanan keuangan
Pada level berikutnya dari piramida keuangan adalah kenyamanan keuangan. Ada pos-pos pendanaan yang termasuk dalam kenyamanan keuangan yaitu:
- Pendanaan yang berhubungan dengan tujuan keuangan pada usia produktif seperti dana pendidikan, dana membeli rumah
- Rencana pensiun
Pendanaan tujuan keuangan
Misalkan yang menjadi tujuan keuangan adalah dana pendidikan. Dana pendidikan jangka waktunya bisa beragam tergantung usia anak saat ini.Misalkan saat ini anak ayah bunda berada pada usia SD, maka menabung (berinvestasi) untuk pendidikan kuliah tergolong investasi jangka panjang. Sementara jika diperuntukkan untuk biaya pendidikan jenjang SMP maka tergolong investasi jangka pendek.
Sebelum melakukan investasi pendidikan anak, ayah bunda harus melakukan survey biaya pendidikan anak terlebih dulu. Berapa biaya pendidikan saat ini dan kira-kira berapa yang nanti akan dibutuhkan saat anak mengambil pendidikan tersebut. Perkiraannya ini biasanya dapat dibantu oleh lembaga keuangan yang menawarkan investasi pendidikan.
Setelah ada ayah bunda memiliki prediksi angka, tarik mundur ke saat ini agar kita mengetahui harus menyisihkan uang berapa perbulan untuk mencapai angka target tersebut.
Instrumen keuangan
Di era aplikasi saat ini, banyak hal yang di otomatisasi dengan menggunakan robo (artificial intelligence) dalam menentukan jenis instrumen investasi keuangan.
Hal tersebut memudahkan bagi seseorang yang awam terhadap instrumen keuangan karena kemudahan penggunaannya. Namun di sisi lain, penggunaan robo bisa jadi tidak efektif karena tidak adanya penggalian mendalam dan diskusi mengenai kondisi keuangan keluarga dan target yang ingin dicapai, sehingga saat ini masih dibutuhkan pendekatan personal dari financial planner agar dana yang ayah bunda miliki dapat dikelola secara efektif.
Selain itu, harus ada financial review. Saat ini belum ada aplikasi investasi yang mampu melakukan financial review, padahal riviu finansial sangat penting untuk mengecek sampai mana investasi kita, apakah investasi kita sudah sesuai dengan peta (skema tahunan) yang kita buat.
Misalnya, pada umumnya orang menganggap reksadana investasi itu uang ‘mati’ yang tidak perlu di lihat padahal itu keliru. Investasi tetap harus ada review misalkan 3 bulan sekali atau setahun sekali walaupun itu reksadana yang resikonya kecil. Review ini berfungsi untuk melihat apakah instrumen yang digunakan sanggup membantu mengejar target yang ingin dicapai, apakah bisa mengejar inflasi yang biasanya sekitar 7-10%/tahun?
Jika setelah dianalisa ternyata sanggup, maka ayah bunda dapat melanjutkan investasi melalui instrumen yang saat ini dipakai, tetapi jika setelah di review ternyata tidak sanggup mengejar target maka sebaiknya cari reksadana lain.
Menentukan jenis instrumen yang cocok bagi keuangan keluarga
Secara garis besar, ada instrumen tertentu yang cocok untuk jangka pendek sementara instrumen lain lebih cocok untuk jangka panjang. Namun sebelum menentukan instrumennya, ayah bunda sebaiknya mengetahui secara spesifik tujuan dari investasi tersebut.
Jika diibaratkan perjalanan, ayah bunda tentukan dahulu tujuannya, misalnya dari Depok dengan tujuan ke Jakarta, banyak alternatif transportasi yang tersedia; naik mobil, kereta, motor. Semua itu memiliki durasi waktu yang dibutuhkan yang beda-beda.
Investasi juga demikian, tentukan tujuannya terlebih dulu. Kecocokan jenis investasi tergantung tujuan, kondisi, kemampuan dan pengetahuan kita. Apakah kita sanggupnya ke Jakarta naik motor, naik kereta atau naik mobil?
Untuk dana darurat, sebaiknya memilih instrumen tabungan/investasi jangka pendek (seperti tabungan rekening, logam mulia, deposito), agar sewaktu-waktu dibutuhkan untuk hal yang urgent dapat diambil. Misalkan untuk membiayai ongkos bengkel pada hari Sabtu. Sementara untuk pendidikan anak, jenis instrumen keuangannya bisa instrumen keuangan jangka pendek bisa juga instrumen keuangan jangka panjang tergantung posisi pendidikan anak sekarang; seperti reksadana pasar uang, saham, obligasi atau campuran atau indeks, pada perjalanannya, investasi pendidikan pun dapat diubah setelah melakukan financial review. Sementara untuk pensiun jenis investasi yang disarankan adalah investasi jangka panjang seperti reksadana saham. (*)
Pingback: Perencanaan Keuangan Keluarga Menghadapi Resesi - Keluarga Pintar Indonesia