You are currently viewing Selayang Pandang tentang Sekolah Alam

Selayang Pandang tentang Sekolah Alam

Ada paradigma di dunia pendidikan, bahwa sekolah berkualitas itu mahal. Pandangan yang sama mungkin juga membayangi Ayah Bunda, tetapi benarkah faktanya demikian?

Salah satu penyebab mahalnya biaya suatu sekolah adalah infrastruktur, seperti bangunan, kolam renang, lapangan olahraga, dan lain-lain. Padahal, faktor penentu kualitas sekolah sejatinya bukanlah infrastruktur loh. Kontribusi infrastruktur terhadap kualitas pendidikan tidak lebih dari 10%, sedangkan 90% lainnya justru berasal dari kualitas guru, metode belajar yang tepat, dan buku sebagai gerbang ilmu pengetahuan. Dengan latar pemikiran ini, Bapak Ir. Lendo Novo, M.M (alm.) mencoba mengembangkan konsep Sekolah Alam. Ide pokok dari Sekolah Alam adalah membuat sekolah dengan kualitas sangat tinggi tetapi dengan harga terjangkau. Pada artikel ini, kita akan mengenal lebih jauh hal-ihwal dari sekolah alam bersama narasumber yang merupakan pendiri Sekolah Alam Kampung Sawah Depok, yakni Ibu Yuli Pinasthi.

Sekolah Alam: tanpa dinding, tanpa jendela

Kata “alam” pada Sekolah Alam mengacu pada dua makna, yakni “alam” dalam arti pengalaman, dan “alam” yang merujuk pada semesta ciptaan Tuhan. Sekolah Alam percaya bahwa alam dan pengalaman adalah guru terbaik kehidupan. Oleh sebab itu, model pembelajaran di Sekolah Alam banyak dilaksanakan di ruang terbuka, dengan memanfaatkan potensi yang ada di dalam lingkungan sekolah. Disamping itu, penggunaan kelas terbuka juga dilakukan untuk mengurangi biaya pembangunan infrastruktur, sehingga biaya pendidikan lebih terjangkau, dan nilai plus lainnya: anak lebih banyak mendapatkan asupan udara segar.

Cara belajar di Sekolah Alam

Sekolah Alam umumnya adalah sekolah formal, sehingga mengikuti jenjang yang berlaku dalam dunia pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 1998, Sekolah Alam menggunakan kurikulum tematik yang menekankan pada keragaman siswa, alih-alih pada keseragaman. Konsep Sekolah Alam mengutamakan integrasi ilmiah-ilahiah, dimana ilmu pengetahuan dan iman adalah hal esensial pencetak generasi pemimpin (khalifah fil ardh). Sedangkan pilar Pendidikan Sekolah Alam adalah akhlak, kepemimpinan, logika ilmiah, dan kewirausahaan. Pada model pembelajarannya, Sekolah Alam menggunakan metode patut, yang bermakna model pembelajaran apa pun dapat digunakan selagi dianggap sesuai. Sehingga, antara satu Sekolah Alam dengan Sekolah Alam yang lain dapat memiliki model pembelajaran yang berbeda-beda.

Sekolah yang inklusif

Hal menarik lainnya, Sekolah Alam biasanya adalah sekolah inklusi, alias sekolah yang menyediakan tempat bagi siswa berkebutuhan khusus. Berpegang pada prinsip pendidikan bagi semua, Sekolah Alam percaya bahwa dengan menyatukan antara siswa biasa dan siswa berkebutuhan khusus, masing-masing pihak akan dapat saling belajar. Siswa berkebutuhan khusus akan mendapatkan spektrum normal, sementara siswa biasa akan memperoleh pengalaman yang memperkaya rasa empati terhadap sesama. Totalitas Pendidikan menurut Sekolah Alam idealnya akan membawa anak ke dalam 4 tahap, yakni tambah pengalaman, tambah pengetahuan (ranah Intelligence Quotient); tambah pengalaman, tambah tangkas (ranah Physical/Power Quotient); tambah pengalaman, tambah bijak (ranah Emotional Intelligence); dan tambah pengalaman, tambah iman (ranah Spiritual Intelligence).

Dengan konsep pendidikan yang out of the box ini, Sekolah Alam layak dipertimbangkan untuk menjadi sekolah bagi putra-putri Ayah Bunda.

Sumber:

https://www.facebook.com/notes/353471379302822/

Gambar:

Canva.com

https://www.ruangguru.com/hs-fs/hubfs/Imported_Blog_Media/Classrooms-without-walls-1.jpg?width=600&name=Classrooms-without-walls-1.jpg

This Post Has One Comment

Leave a Reply