You are currently viewing Love Bombing: Tanda, Dampak, dan Cara Menghadapinya

Love Bombing: Tanda, Dampak, dan Cara Menghadapinya

Love bombing adalah kondisi saat seseorang dibanjiri perhatian, pujian, dan kasih sayang secara intens dan tiba-tiba di awal hubungan. Sekilas terlihat romantis, tetapi jika tidak seimbang dengan kedekatan emosional yang sehat, ini bisa menjadi tanda manipulasi. Ini adalah taktik untuk menciptakan ketergantungan emosional dan kontrol dalam sebuah hubungan.

Seorang konselor kesehatan mental, Chelsie Reed, Ph.D., L.P.C., menjelaskan bahwa meskipun pujian dan kasih sayang menyenangkan, love bombing sering kali tidak seimbang dengan waktu dan kedekatan yang sudah terbentuk dalam hubungan. Inilah yang membuatnya berpotensi merusak.

Apa Itu Love Bombing?

Menurut Samantha Burns, L.M.H.C., love bombing terjadi saat seseorang memberikan perhatian, hadiah, dan pujian berlebihan sejak awal hubungan. Tujuannya menciptakan kedekatan instan dan perasaan bahwa Anda sangat istimewa. Namun, di balik itu bisa tersembunyi manipulasi emosional, seperti gaslighting atau kontrol berlebihan.

Love bomber biasanya mengucapkan kata “aku mencintaimu” terlalu cepat, memberi hadiah mahal tanpa alasan jelas, atau mengatur kencan mewah sejak awal. Dalam banyak kasus, tindakan ini muncul dalam tiga bulan pertama hubungan, masa yang dianggap terlalu singkat untuk membentuk kedekatan yang mendalam.

Tanda-Tanda Love Bombing

Beberapa sinyal Anda mengalaminya, antara lain:

  • Pesan romantis dan pujian terus-menerus bahkan sebelum bertemu langsung.
  • Meminta hubungan yang lebih dekat setelah hanya satu kali pertemuan.
  • Menyalahkan Anda jika belum membalas perasaan mereka dengan kata “aku cinta kamu”.
  • Mengirim pesan atau menelepon tanpa henti untuk menciptakan rasa kedekatan palsu.
  • Menggunakan kerentanan atau ketakutan Anda untuk mengontrol keputusan.
  • Memaksa Anda selalu ada untuk mereka, bahkan dengan alasan yang terdengar romantis.

Dalam banyak kasus, hubungan akan terasa seperti roller coaster: sangat bahagia di awal, lalu berubah menjadi kendali atau kekerasan emosional yang menyakitkan.

Tiga Fase dalam Love Bombing

Cleveland Clinic menyebut perilaku ini terdiri dari tiga fase:

  1. Fase Idealisasi: Pelaku mencurahkan perhatian dan pujian berlebihan, serta menetapkan ekspektasi yang tidak realistis terhadap Anda.
  2. Fase Devaluasi: Setelah merasa memiliki Anda, pelaku mulai merendahkan dan mengkritik Anda. Gaslighting sering terjadi dalam tahap ini.
  3. Fase Penolakan: Ketika hubungan mulai retak, pelaku biasanya menghindari tanggung jawab. Korban merasa bingung dan terluka.

Dampak Love Bombing

Love bombing tidak hanya membuat hubungan terasa tidak sehat, tetapi juga dapat merusak kondisi psikologis korban. Korban bisa merasa kewalahan, tidak berdaya, dan kehilangan kepercayaan diri. Tekanan emosional ini bisa menyebabkan kecemasan, depresi, bahkan trauma jangka panjang.

Reed menekankan bahwa love bombing menciptakan tekanan emosional bagi kedua pihak. Korban merasa harus menjadi sosok ideal, sementara pelaku merasa harus terus menciptakan kesan romantis agar tetap dicintai.

Apa yang Harus Dilakukan?

Jika Anda merasa sedang mengalami love bombing, penting untuk mengevaluasi apakah hubungan berjalan sesuai keinginan dan dalam kecepatan yang wajar. Bersikap terbuka dan komunikatif bisa menjadi langkah awal. Sampaikan bahwa Anda butuh waktu untuk memproses perasaan dan ingin memperlambat hubungan.

Burns menyarankan untuk tidak ragu menetapkan batasan, seperti membatasi intensitas komunikasi atau mengatur frekuensi pertemuan. Pasangan yang sehat akan menghargai batasan Anda.

Cara Mengatasi Love Bombing

Jika hubungan ingin diselamatkan, bicarakan secara jujur dan tetapkan ekspektasi yang sehat. Jika hubungan terasa berat dan tidak nyaman, pertimbangkan untuk mengambil jarak. Bantuan dari terapis atau konselor bisa menjadi pilihan tepat untuk memahami dinamika hubungan dan menjaga kesehatan mental.

Love bombing bukan sekadar bentuk cinta yang berlebihan. Di balik gestur romantis, bisa tersembunyi pola manipulatif yang merusak. Mengenali tanda-tanda sejak awal dan berani menetapkan batasan adalah langkah penting untuk menjaga hubungan tetap sehat dan saling menghargai.***

Sumber: Prevention

Baca juga: Berkenalan dengan Bahasa Cinta: Menyentuh dengan Hati, Melayani dengan Cinta

Leave a Reply