Ayah bunda, ketika berbicara tentang tanda-tanda peringatan dalam hubungan, ada beberapa perilaku mencurigakan yang patut diperhatikan. Gaslighting dan love bombing hanyalah beberapa praktik manipulatif; namun, ada satu lagi yang perlu diketahui: breadcrumbing.
Menurut psikolog klinis dan terapis bersertifikat Gottman, Dr. Vagdevi Meunier, breadcrumbing melibatkan pemberian “remah-remah perhatian” agar seseorang tetap tertarik, meski tidak ada niatan untuk menjalin hubungan yang konsisten dan bermakna. Dalam praktiknya, si pelaku (breadcrumber) menyukai perhatian dari korban, tetapi enggan membalasnya dengan komitmen yang setara.
Meunier menjelaskan bahwa taktik ini dapat digunakan dalam semua jenis hubungan, paling sering terjadi selama fase kencan, tetapi juga dapat terjadi dalam hubungan yang sudah berkomitmen bahkan pernikahan. Meskipun ada juga beberapa kasus, seseorang tidak sengaja melakukan breadcrumbing tanpa niat manipulatif.
Berikut ini, para ahli menjelaskan apa itu breadcrumbing, tanda-tanda yang perlu diwaspadai, dan apa yang harus dilakukan jika kamu mengalaminya.
Apa Itu Breadcrumbing?
Breadcrumbing adalah salah satu bentuk manipulasi emosional dalam hubungan, di mana seseorang memberikan sedikit perhatian secara berkala tanpa niat membangun hubungan yang serius. Perilaku ini bisa terjadi dalam tahap pendekatan, pacaran, bahkan dalam pernikahan.
Istilah ini semakin populer sejak munculnya aplikasi kencan online, yang memudahkan seseorang untuk tetap menggantung harapan orang lain tanpa benar-benar menunjukkan komitmen.
“Bagi korban breadcrumbing, menyadari bahwa mereka telah dipermainkan tanpa peluang nyata untuk mendapatkan balasan bisa sangat menyakitkan,” jelas Weena Wise, L.C.M.F.T., seorang ahli dari the Washington D.C. metropolitan.
“Menjadi korban breadcrumbing seperti naik rollercoaster emosional. Seiring waktu, seseorang merasakan dampak dari awal dan akhir yang sporadis. Hal ini dapat menyebabkan perasaan ragu-ragu, kebingungan, marah, dan dendam.” lanjutnya.
Tanda-tanda Breadcrumbing
Menurut Meunier dan Wise, tanda-tanda umum breadcrumbing dapat meliputi:
1. Komunikasi sepihak
Kamu hanya mendapatkan perhatian dari orang tersebut ketika kamu yang memulainya. Mereka jarang sekali menghubungi Anda secara sukarela terlebih dulu.
2. Isi percakapan dangkal
Percakapan kamu berada di permukaan. Apakah pesan-pesan mereka didominasi oleh keceriaan, rayuan, dan godaan? Jika saat kamu mencoba memiliki percakapan yang lebih serius, mereka mengelak, mengganti topik, atau bahkan marah.
3. Respons muncul saat kamu mulai menjauh
Mereka hanya hadir saat Anda menjauh, “Jika seseorang hanya menunjukkan perhatian yang diinginkan saat Anda mulai mundur, bisa jadi ini adalah pertanda bahwa dia ingin kamu ada untuk dirinya tapi bukan untuk serius,” jelas Wise.
4. Tindakan tidak sesuai dengan kata-kata
Jika seseorang yang kamu sukai kerap melontarkan ucapan samar tentang kelanjutan hubungan, tetapi tidak pernah bertindak nyata, bisa jadi ini bisa menjadi ciri breadcrumbing.
“Mereka mungkin memujimu seolah-olah tak ingin kehilanganmu, tapi sikap itu tidak didukung dengan tindakan nyata,” jelasnya.
5. Hubungan terasa terputus-putus
Pelaku menjaga jarak dan hanya muncul sesekali untuk menjaga keterikatan.
“Kalau kamu mulai menyadari bahwa seseorang punya batasan yang kaku soal kapan mereka tersedia atau seberapa sering mereka meluangkan waktu untukmu, itu bisa jadi tanda bahwa mereka hanya ingin menjaga hubungan tetap ada di permukaan, bukan hadir secara nyata dan timbal balik dalam hubungan,” ujar Wise.
Siapa yang Bisa Menjadi Korban Breadcrumbing?
Breadcrumbing paling sering terjadi pada fase awal hubungan, seperti pendekatan atau hubungan tanpa komitmen. Inilah mengapa banyak individu yang menjadi korban breadcrumbing merasa ditarik-ulur dan kesal.
Namun, Meunier menyebut breadcrumbing juga bisa muncul dalam pernikahan. Misalnya, pasangan yang selalu berkata tidak bisa memenuhi kebutuhan emosional, tapi sesekali menunjukkan bahwa mereka sebenarnya mampu, porsinya cukup untuk membuat pasangan terus berharap namun kecewa lagi dan lagi.
“Banyak orang hidup dalam penderitaan ketidakpastian selama bertahun-tahun dengan remah-remah perhatian, keintiman, atau gestur cinta, hanya untuk menyadarinya dua hingga tiga dekade kemudian dan merasa sudah terlambat untuk meninggalkan pernikahan,” jelas Meunier.
Bagaimana Merespons Breadcrumbing
Wajar jika merasa gugup untuk mengutarakan kekhawatiran kepada pasangan atau orang yang sedang dekat dengan kamu, namun hal ini adalah sesuatu yang tidak boleh diabaikan.
“Kamu juga sebaiknya siap menjelaskan seperti apa bentuk hubungan yang lebih konsisten dan bermakna menurutmu ke depannya.” saran Wise.
Namun, jika setelah kamu menyampaikan perasaanmu dan mereka tetap menunjukkan pola perilaku yang sama, Wise menegaskan bahwa melanjutkan hidup tanpa mereka bisa jadi langkah yang lebih sehat.
Menurutnya, hubungan yang sehat butuh timbal balik. Jika kamu sudah berusaha mundur dengan cara yang hormat dari hubungan yang penting bagimu, pasangan yang benar-benar peduli seharusnya berinisiatif menghubungimu untuk memperbaiki keadaan.
Sebagai penutup, Meunier mengingatkan bahwa wajar bila kamu merasa sedih saat sebuah hubungan tak berjalan seperti harapan. “Maafkan dirimu. Siapa pun bisa saja terjebak dan dimanipulasi oleh orang narsistik yang terlihat menawan,” ujarnya.
“Mereka sangat ahli dalam hal ini, dan kebanyakan dari kita tidak dibekali radar untuk mendeteksi manipulasi semacam itu.”***
Sumber: Prevention
Baca Juga: Cara Menyembuhkan Luka Batin dari Masa Kecil yang Menggerogoti Harga Diri
